Malang – Usaha jajaran SMA Negeri 7 Malang dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang bebas dari sampah plastik dengan berbagai pola, inovasi, kebijakan serta kerjasama semua jajaran satuan lembaga pendidikan jenjang SMA yang kini dikepalai oleh Drs. Supriyono , M.Si itupun berbuah manis. Lingkungan sekolah yang sehat, asri, edujatif dan juga terbebas dari sampah plastik itupun membuat Sekolah yang berada dikawasan jalan Cengger Ayam No. I/14 itupun mendapatkan penghargaan sekolah Adiwiyata Mandiri tahun 2017 dari Kementrian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.

Mewujudkan lingkungan sekolah yang nyaman, bersih dan asri tidak akan dapat berjalan dengan baik tanpa adanya partisipasi secara langsung dari seluruh elemen yang ada di SMA Negeri 7 Malang. Untuk itulah dibentuk tim khusus Adiwiyata Mandiri yang secara langsung diketuai oleh Drs. Supriyono , M.Si selaku Kepala SMA Negeri 7 Malang, dikoordinatori Dra. Hj. Kustilah serta dibantu oleh Dwi Iriani, M.Pd selaku Humas Adiwiyata Mandiri dibentuklah berbagai klub berwawasan lingkungan.

Klub bentukan tim Adiwiyata Mandiri SMA Negeri 7 Malang terdiri atas klub terima tamu, hidroponik, kantin kejujuran, sayur, inovasi energi terbarukan, kompos, budidaya jamur dan cacing, kantin, pembibitan, IPAL, KIR, madibg, kamar mandi, biopori, budidaya kolam dan unggas, aquarium, UKS, recycle, green house, toga dan jamu. Belasan klub tersebut masing – masing dikoordinatori oleh tenaga pendidik dan beranggotakan peserta didik SMA Negeri 7 Malang.

” Klub Adiwiyata Mandiri ini beranggotakan para siswa siswi SMAN 7 Malang. Harapannya dengan mereka terlibat secara langsung dalam persiapan songsong Adiwiyata Mandiri tahun 2017 ini secara tidak langsung dapat membentuk karakter dan kepedulian pada diri peserta didik akan pentingnya kelestarian serta keseimbangan alam.” jelas Drs. Supriyono , M.Si Kepala SMA Negeri 7 Malang.

 

Beberapa inovasi dan juga program kerja demi menunjang terwujudnya sekolah Adiwiyata digarap serius seluruh elemen SMA Negeri 7 Malang diantaranya program tutor sebaya dimana antar siswa saling memberikan pebgetahuan dan pemahaman mengenai kelestarian lingkungan maupun isue isue terkait lingkungan yang sedang trend dimasyarakat. Bahkan siswa siswi SMAN 7 Malang juga dilatih kemandirian dan juga keberanian tampil dimasyarakat dengan memberikan penyuluhan pada warga Mojolangu tentang pentingnya menjaga kelestarian alam beserta cara sederhana untuk mengaplikasikannya.

 

” Kami juga sedang melaksanakan program tumblerisasi dimana anak didik dan warga sekolah membawa wadah minum sendiri sehingga dapat meminimalisir konsumsi minuman dalam kemasan. Apalagi di SMAN 7 Malang memiliki fasilitas air siap minum ZAMP hasil kerjasama dengan PDAM Kota Malang. ” terang koordinator Adiwiyata Mandiri SMAN 7 Malang Dra. Hj. Kustilah.

Kesuksesan SMAN 7 Malang melakukan pengimbasan program Adiwiyata yang dijalankan di sekolah imbas yakni SDN Kauman 1, SDN Kasin, SDN Percobaan 2 , SDN Lesanpuro 5, SD Insan Amanah, SMPN 18, SMPN 20, SMAN 4, SMA Brawijaya Smart School, dan SMKN 8 juga menjadi nilai point lebih bagi dewan juri untuk menetapkan SMAN 7 Malang sebagai sekolah Adiwiyata Mandiri.

” Adanya siswa yang tidak dapat mengkonsumsi ZAMP karena alasan kesehatan sehingga tidak dapat mengikuti program “Tumbler” kami ijinkan untuk menggunakan air kemasan dalam botol. Botol mineral bekas itupun harus diisi sampah plastik seberat 2,8 ons yang nantinya digunakan dan dibentuk berbagai aneka kerajinan daur ulang yang kami namai eco brik. ” jelas Dwi Iriani, M.Pd selaku Humas Adiwiyata Mandiri SMAN 7 Malang.

Lebih lanjut wanita berhijab yang akrab disapa Dwi itupun menjelaskan bahwa program sekolah harus pula mendapatkan dukungan dan partisipasi orangtua, maka program eco brik dikembangkan satu siswa satu eco brik. Dengan demikian, secara tidak langsung sampah plastik yang ada dirumah dapat dimanfaatkan dalam program ini.

Keanekaragaman hayati yang tersebar diareal SMAN 7 Malang tidak mungkin dulikuasai satu per satu oleh peserta didik dan juga keluarga besar SMAN 7 Malang. Namun dengan adanya jalinan kerjasama antara SMAN 7 Malang dengan GIZ Jerman melalui program barcodisasi keragaman hayati, saat ini kita akan dengan mudah mengetahui segala hal tentang tanaman yang ada dengan cara menscan barcod yang ada melalui android yang terintegrasi pada wikipedia, maka akan muncul keterangan lengkap tentang tanaman yang ingin kita ketahui.

 

Dan untuk saat ini, satu satunya sekolah yang memiliki alat ukur curah hujan ini, produksi pupuk kompos SMAN 7 Malang selain digunakan untuk merawat tanaman disekolah juga telah dipasarkan ke beberapa pedagang bunga di pasar Splendid. (fandi harianto)

 

Sumber : Adiwiyata Mandiri 2017