TUMBUHAN OBAT


Kulit kayu pohon kina digunakan sebagai obat malaria

Tumbuhan obat adalah tumbuhan yang telah diidentifikasi dan diketahui berdasarkan pengamatan manusia memiliki senyawa yang bermanfaat untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit, melakukan fungsi biologis tertentu, hingga mencegah serangan serangga dan jamur. Setidaknya 12 ribu senyawa telah diisolasi dari berbagai tumbuhan obat di dunia, namun jumlah ini hanya sepuluh persen dari jumlah total senyawa yang dapat diekstraksi dari seluruh tumbuhan obat.

Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat telah ada sejak zaman prasejarah manusia. Pada tahun 2001, para peneliti telah mengidentifikasi bahwa 122 senyawa yang digunakan di dunia kedokteran modern merupakan turunan dari senyawa tumbuhan yang sudah digunakan sejak zaman prasejarah. Begitu banyak obat-obatan yang tersedia saat ini merupakan turunan dari pengobatan herbal, seperti aspirinyang terbuat dari kayu pohon dedalu, juga digitalisquinine, dan opium.

WHO memperkirakan bahwa 80 persen warga di benua Asia dan Afrika memanfaatkan pengobatan herbal untuk beberapa aspek perawatan kesehatan. Amerika Serikat dan Eropa memiliki ketergantungan yang lebih sedikit, namun memperlihatkan kecenderungan meningkat sejak efektifitas beberapa tumbuhan obat telah teruji secara ilmiah dan terpublikasikan. Pada tahun 2011, total tumbuhan obat yang diperdagangkan di seluruh dunia mencapai nilai lebih 2.2 miliar USD.

Dengan sumber yang berasal dari tumbuhan, maka kekayaan hayati suatu negara seperti hutan menjadi penting, dan kerusakan hutan mengancam keberadan tumbuhan obat yang pernah dan saat ini dimanfaatkan oleh masyarakat adat penghuni kawasan hutan dan sekitarnya. Keanekaragaman hayati di dalam hutan penting selain sebagai sarana melestarikan spesies tumbuhan obat untuk manusia, juga dapat menjadi sumber obat-obatan darurat bagi hewan langka yang ada di cagar alam. Tumbuhan yang bermanfaat tersebut perlu diidentifikasi dan diteliti lebih lanjut, dan pakar konservasi atau jagawana perlu dilatih untuk menggunakan tumbuhan obat tersebut. Pengetahuan mengenai pemanfaatan tanaman obat di dalam hutan dapat digali dari masyarakat setempat berdasarkan pengalaman mereka yang diturunkan dari generasi ke generasi. Masyarakat Suku Tugutildi Taman Nasional Aketajawe LolobataHalmahera, memiliki pengetahuan terhadap setidaknya 116 spesies tumbuhan lokal, dengan 71 spesies dimanfaatkan sebagai tanaman pangan dan 45 spesies dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat.

SEJARAH

Sejak zaman prasejarah, rempah-rempah pada awalnya digunakan sebagai bumbu penyedap makanan, namun perlahan diketahui memiliki beragam manfaat.[1][2] Terutama rempah-rempah yang memiliki kemampuan antimikroba sehingga dapat mengawetkan makanan. Cara ini diperkirakan berawal di wilayah tropis di mana makanan tidak bisa diawetkan karena faktor iklim. Berbeda dengan wilayah iklim sedang yang memiliki musim dingin sehingga makanan dapat diawetkan secara temperatur rendah. Daging secara umum di berbagai budaya dibumbui lebih banyak dari sayuran karena daging lebih cepat rusak.

Berbagai bukti arkeologis menemukan bahwa manusia menggunakan tumbuhan obat setidaknya sejak zaman Paleolitikum, sekitar 60 ribu tahun yang lalu. Namun diperkirakan hal itu terjadi lebih awal, karena primata yang masih hidup saat ini juga telah menggunakan berbagai dedaunan spesifik untuk menyembuhkan penyakit tertentu. Sampel tumbuhan yang dikumpulkan dari lokasi prasejarah Neanderthal Gua Shanidar di Iran menemukan sejumlah besar polen dari 8 spesies tumbuhan, dengan tujuh diantaranya masih digunakan sampai sekarang sebagai pengobatan herbal.

Dalam sejarah tertulis, setidaknya setudi mengenai rempah daun telah dilakukan sejak 5000 tahun lalu di Sumeria, dan tertulis di tablet tanah liat yang memuat daftar ratusan tumbuhan obat. Pada tahun 1500 SM bangsa Mesir Kuno menulis Papirus Eber yang berisi lebih dari 800 tumbuhan obat, termasuk diantaranya bawang putih dan mariyuana. Di India, pengobatan Ayurveda telah menggunakan berbagai tumbuhan obat sejak 1900 SM. Kaisar China Shennong disebutkan telah menulis setidaknya 365 tumbuhan obat dan pemanfaatannya, termasuk mariyuana dan ephedra (yang menjadi asal kata nama obat ephedrine). Pada Yunani Kuno, setidaknya tumbuhan obat telah dipelajari sejak abad ke 3 SM oleh Diocles of Carystus, namun sebagian besar isinya mirip dengan yang ditemukan di Mesir.

FITOKIMIA

Semua tumbuhan menghasilkan senyawa kimia sebagai bagian dari aktivitas metabolisme. Senyawa fitokimia ini dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

·         Metabolit primer seperti gula dan lemak yang ditemukan di seluruh jenis tumbuhan.

·         Metabolit sekunder yang tidak ditemukan di semua jenis tumbuhan, dan setiap jenis tumbuhan dapat memiliki jenis dan fungsi metabolit sekunder yang berbeda-beda.

Contoh metabolit sekunder yaitu toksin yang digunakan untuk melawan predator dan feromon yang digunakan untuk menarik perhatian serangga untuk melakukan penyerbukan. Metabolit sekunder inilah yang banyak digunakan sebagai obat-obatan pada manusia, seperti inulin dari akar dahlia sebagai media penyimpanan energi digunakan manusia untuk pengobatan ginjalkuinina dari kina menghasilkan rasa pahit sehingga mencegah tumbuhan dimakan herbivora, pada manusia dijadikan obat malaria; dan morfin darilateks opium merupakan pertahanan ketika biji opium yang sedang berkembang diserang, oleh manusia dijadikan bahan obat-obatan. Bahkan tumbuhan yang beracun dapat memiliki manfaat secara medis.[21]

Tumbuhan mensintesis berbagai jenis fitokimia, namun sebagian besar merupakan turunan dari senyawa biokimia dasar:

·         Alkaloid merupakan senyawa kimia yang memiliki cincin nitrogen. Alkaloid dihasilkan dari berbagai jenis organisme dari bakteri hingga animalia. Alkaloid dapat dimurnikan dengan menggubakan ekstraksi asam-basa. Berbagai alkaloid bersifat toksik bagi organisme lain. Contoh alkaloid adalah kafein. Secara umum alkaloid memiliki rasa pahit.

·         Polifenol adalah senyawa yang mengandung cincin fenol. Contoh polifenol yaitu antosianin yang memberi warna ungu pada anggurtannin yang memberi rasa pada teh, danisoflavon dari kedelai.

·         Glikosida adalah molekul gula yang terikat dengan substansi non-karbohidrat, biasanya senyawa organik. Glikosida berperan sebagai media penyimpanan energi pada tumbuhan dan dapat diaktifkan melalui hidrolisis oleh enzim yang melepaskan rantai gula dari glikosida sehingga dapat dimanfaatkan oleh tumbuhan.

·         Terpena adalah senyawa organik yang umumnya dihasilkan oleh konifer. Terpena memiliki aroma yang kuat dan berfungi melindungi konifer dari serangan serangga. Terpena ada pada resin atau getah konifer. Oleh manusia, terpena digunakan sebagai parfum, pemberi rasa pada makanan, dan aromaterapi.

UJI KLINIS

Berbagai rempah daun memiliki efek positif ketika diuji secara in-vitro, pada hewan, dan uji klinis skala kecil, namun tidak jarang beberapa tumbuhan obat memiliki efek negatif.

Pada tahun 2002, National Institutes of Health mulai membiayai uji klinis terhadap efektivitas obat herbal. Survey pada tahun 2010 terhadap 1000 jenis tumbuhan, 356 diantaranya telah memiliki hasil uji klinis mengenai manfaatnya secara farmakologi. Sekitar 12 persen dikatakan "tidak memiliki manfaat yang signifikan" meski telah tersedia di pasar. Dan berdasarkan Cancer Research UK, tidak ada satupun pengobatan herbal yang terbukti secara klinis dapat mencegah atau mengobati kanker. Berbagai pakar pengobatan herbal mengkritik studi ilmiah terhadap obat-obatan herbal karena tidak memasukkan pengetahuan historis yang dapat memberikan informasi mengenai dosis optimal, spesies yang detail, waktu pemanenan, dan target populasi penerima obat.

 

Add comment

Security code
Refresh